Waktu itu malam
Waktu itu kantuk nan derita
Waktu itu terbangun dengan tangan tertopang dagu
Waktu itu sambil membaca terpejam bahan-bahan bacaan
Kaget, tersontak..
Aku ada di mana?
Oh.. Ya.. Aku sadar..
Terbangun suara ‘Sang Bayangan’
Terbangun oleh merdunya suara itu
Terbangun keharuan kini
Terbangun ku ke kamar mandi dan menggosok gigi
Terbesit menyalakan komputer
Terbesit online dan buka facebook
Akhirnya online bersama ‘Sang Bayangan’
Bicara Tentang ini dan itu
Bicara apresiasi pusi Sapardi Djoko Damono:
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu…
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…”
Hem.. ‘Sang Bayangan tidak paham’
Penyesalan…
Bicara ini itu tentang ini dan itu
Lalu ‘Sang Bayangan’ bertanya: “Kapan kita bersatu sebagai tubuh dan bayangan?”
Darahku mencekat, sesak dadaku..
Apapunkah, apapunkah…
Esensi itu telah hilang! Kau kemana saja?
Apakah kau lebih dulu mengejar esensi matahari kemudian mencari di labirin kah tubuh ini?
Keterlaluan!! Bukankah satu tubuh dan bayangan?
Aku kecewa.. Kau memang pantas untu diinjak tubuh ini!!!
Kata ‘Sang Bayangan’ : “Aku menyesal hai tubuh.. Aku menangis untuk dirimu..Kalau kau tak percaya dan tak melihat, mataku ini jadi taruhannya.”
(bisik-bisik dalam hati..Kau tak punya mata, mana bisa kau mempertaruhkannya..-tubuh sungguh kejam-)
Kau Tak PANTAS!!!!!!
AKU BENCI BAYANGAN!!!!!